Footer Widget 1

HUBUNGI KAMI

Footer Widget 3

Photobucket

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label HAROKAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HAROKAH. Tampilkan semua postingan

Seni Membangun Hubungan

Written By FRAKSI PKS WONOGIRI on Selasa, 17 Juli 2012 | 18.11


Mengapa perlu meningkatkan hubungan baik (Relationship) ?
  1. Agar orang yang berinteraksi dengan kita (obyek dakwah) puas ketika berhubungan dengan kita.
  2. Semua orang diharapkan dapat menceritakan pada orang lain bahwa banyak keuntungan yang diperoleh ketika berhubungan dengan kita.
Dan untuk bisa berhubungan baik dengan orang lain maka kita perlu mengetahui apa yang menjadi kodrat umum seorang manusia. Salah satunya adalah bahwa"orang itu sangat tertarik pada dirinya sendiri atau pikiran mereka sendiri”karena itu perhatikanlah 7 hal berikut dan semoga kita sukses mengambil hati mereka.


1. Terampillah dalam berbicara


Topik yang paling menarik untuk dibicarakan dengan kawan bicara adalah "diri mereka sendiri”. Mereka akan tertarik, amat percaya jika membicarakan apa yang diinginkan oleh mereka. Cara yang salah adalah ketika kita melawan kodrat manusia. Karenanya dalam awal komunikasi yaitu ketika kita belum akrab betul dengan mereka pastikan:
Jangan terlalu banyak mengatakan : "saya, aku, milikku, ana"
Lebih banyak mengatakan : "Anda, saudara, bapak, milik anda, antum"
Dan topik yang paling menarik adalah tentang diri mereka sendiri, keluarga mereka, pekerjaan mereka, hobby mereka dan seterusnya


2. Buatlah orang merasa penting

Pastikan semua orang berinteraksi dengan kita merasa "penting", tidak ada yang dimarjinalkan dari orang lain. Semakin merasa penting maka peluang mereka memberikan tanggapan akan semakin besar. Lakukanlah beberapa langkah berikut :
  • Dengarkanlah mereka, tunjukkan sisi antusias ketika mereka bicara, gunakan anggukan kepala sebagai tanda kita memperhatikan.
  • Pandanglah ketika mereka bicara, jangan terkesan mengabaikan / cuek.
  • Pujilah dan hargailah mereka dengan guesture (isyarat tubuh) yang tepat atau dengan ucapan tanggapan yang menyenagkan mereka.
  • Sebutkan nama mereka sesering mungkin dalam percakapan. Orang akan bergetar hatinya jika disebut namanya.
  • Perhatikan setiap orang ketika percakapan melibatkan sekelompok orang, pastikan semua mendapatkan tatapan mata kita dan perhatian kita.

3. Setujuilah pendapat mereka

Ikhwah fillah, belajarlah menyetujui pendapat orang lain.
  • Terkadang tidak cukup dengan anggukan kepala, ada beberapa orang yang lebih yakin melanjutkan komunikasi dengan kita ketika ada sebuah ucapan (kata-kata) persetujuan yang muncul dari mulut kita.
  • Tidak terburu mengawali kalimat dengan mengatakan "Tidak setuju” pada orang lain ketika ada yang berbeda dengan pendapat kita kecuali betul-betul mutlak keliru dan waktu percakapan kita pendek.
  • Misal mereka mengatakan : Saya pikir PKS munafik jika tidak mengakui bahwa ujung-ujung perjuangannya adalah kekuasaan...
  • Lebih diterima jika kita mengatakan ”Sungguh menarik untuk didiskusikan apa yang bapak Ali tadi sampaikan, mungkin pak Ali pernah mendengar diskusi di TV...” Atau "Mungkin memang ada benarnya apa yang bapak Ali sampaikan, namun yang menarik pak Ali, sebenarnya adalah bagaimana PKS menilai sebuah kekuasaan, mungkin bapak pernah mendengar...,
    NB : memperbanyak menyebut nama lawan bicara dan mengurangi menyebut saya, aku, ana dan lain-lain akan terasa berbeda jika kita berbicara "menurut saya...” "wah saya kayaknya perlu meluruskan nih...”(kesan defensif).
  • Akuilah jika kita memang salah atau ada kelemahan kita yang diungkap oleh lawan bicara kita. Kita akan dianggap lebih dewasa jika bisa tenang mengakui kelemahan kita dengan cara berterima kasih pada mereka karena diingatkan dan minta doa mereka agar kita bisa bersegera membenahi kelemahan kita.
  • Tahanlah diri untuk tidak berdebat
  • Ingat bahwa orang akan "malas" berkomunikasi dengan kita jika kita terindikasi berseberangan pendapat dan tidak mau menyetujui pendapat-pendapat mereka.Disinilah seni berkomunikasi.

4. Dengarkan mereka

  • Simaklah perkataan lawan bicara dengan cara mendengarkan setiap kata yang keluar. Semakin kita mendengarkan, akan semakin terbuka peluang bagi kita untuk menemukan cara/celah masuk dalam berkomunikasi lebih lanjut. Sikap berkonsentrasi dalam mendengarkan juga menyenangkan si lawan bicara karena mereka merasa "diorangkan”.
  • Pendengar yang baik selalu membiarkan orang untuk menceritakan cerita favorit mereka yaitu "cerita dari mereka sendiri”.
  • Orang akan menghormati kita jika kita serius mendengarkan mereka. Usahakan ada tatapan mata dan usahakan posisi tubuh kita dalam posisi terbaik. Penghormatan akan berbuah penghormatan.
  • Sesekali ajukan pertanyaan.
  • Ikuti topik si "lawan bicara” dan jangan memotong/menyela atau sibuk dengan urusan kita sendiri misal : pencat-pencet HP atau baca buku dan lain-lain.

5. Selami mereka agar bisa mempengaruhi
Suatu saat kita berharap bisa memimpin mereka. Setiap kita memiliki hakekat kepemimpinan karena memang setiap kita adalah pemimpin. Namun yang membedakan adalah kekuatan kepemimpinan kita (The power of leadership). Kepemimpinan sering disederhanakan dengan kata "pengaruh" sehingga kekuatan kepemimpinan seseorang bisa dilihat dari sejauh mana kekuatan pengaruhnya terhadap orang lain.

Agar kita memiliki kekuatan pengaruh kepada obyek dakwah kita maka biasakanlah melakukan 3 hal sederhana berikut :

1. Cari tahu apa yang mereka "inginkan"
2. Cari tahu apa yang mereka "butuhkan"
3. Cari tahu apa yang mereka "sukai"

Jika kita sudah mengetahui keinginan dan kebutuhan yang mereka cari, maka kita akan mudah mempengaruhi orang lain.

6. Yakinkan mereka

  • Menjadi kodrat manusia, bahwa mereka sangat mungkin ragu bahkan cenderung tidak percaya kepada sesuatu yang baru mereka dengar dan dikatakan oleh orang yang baru mereka kenal. Karenanya lengkapilah diri kita dengan pengetahuan cukup tentang produk atau materi yang akan kita sampaikan dan lengkapi pula diri kita dengan kecakapan berkomunikasi.
  • Jika kita sendiri tidak mampu meyakinkan maka jangan ragu untuk menggunakan orang ketiga pada awal-awal kita berinteraksi yaitu untuk meyakinkan mereka. biarkan orang ketiga tersebut menjawab pertanyaan itu untuk kita.
  • Bahkan ada beberapa orang yang lebih terkesan jika ada orang ketiga yang meneguhkan jawaban, dari pada kita sendiri yang menjawab.
  • Seni meyakinkan orang harus dimulai dari seni meyakinkan diri sendiri terlebih dahulu. Orang bijak mengatakan : "Jauh lebih penting dari seluruh rencana yang kita buat adalah keyakinan bahwa kita akan berhasil dan keyakinan itu sifatnya menular, keyakinan pula yang akan membuka banyak ruang kreatifitas".

7. Kondisikan Suasana Hati Mereka

Orang sangat condong untuk menanggapi dengan baik perilaku baik dari orang lain. Kita akan mendapatkan sesuatu dari apa yang telah kita berikan. Karenanya beberapa detik pertama dalam pertemuan menentukan suasana dan sifat hubungan. "Berikan senyum tulus kita kepadanya :) ""sedikit bingkisan mungkin bisa menyentuh hatinya" atau "pujilah sesuatu yang dia miliki atau dia lakukan", alangkah tepat jika diawal pertemuan, kita banyak membicarakan seputar mereka dari pada kita sendiri.

(Abu Bara)

Karakteristik Rumah Tangga Islami

Written By FRAKSI PKS WONOGIRI on Senin, 09 Juli 2012 | 01.49


Karakteristik Rumah Tangga Islami

Untuk menegakkan bangunan masyarakat Islami, penyangga utamanya adalah rumah tangga Islami. Apa sesungguhnya yang dimaksud dengan rumah tangga Islami? Apakah dengan semua anggota keluarganya beragama Islam lantas sudah disebut rumah tangga Islami? Kenyataannya, betapa banyak keluarga muslim yang tidak menampakkan kehidupan yang Islami.Rumah tangga Islami adalah sebuah rumah tangga yang didirikan di atas landasan ibadah yang di dalamnya ditegakkan adab-adab Islam, baik menyangkut individu maupun keseluruhan anggota rumah tangga. Mereka bertemu dan berkumpul karena Allah, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, serta saling menyuruh kepada yang makruf dan mencegah yang mungkar, karena kecintaan mereka kepada Allah. Mereka betah tinggal di dalamnya karena kesejukan iman dan kekayaan ruhani. Mereka berkhidmat kepada Allah swt dalam suka maupun duka, dalam keadaan senggang maupun sempit.
Rumah tangga Islami adalah rumah yang di dalamnya terdapat iklim yang sakinah (tenang), mawadah (penuh cinta), dan rahmah (sarat kasih sayang). Perasaan itu senantiasa melingkupi suasana rumah setiap harinya. Seluruh anggota keluarga merasakan suasana "surga" di dalamnya. Baiti jannati, demikian slogan mereka sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Subhanallah!
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir." (QS Ar-Ruum 30:21)
Prinsip-prinsip dasar rumah tangga bisa disebut Islami dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut.
Pertama, Tegak di Atas Landasan Ibadah
Rumah tangga Islami harus didirikan dalam rangka beribadah kepada Allah semata. Artinya, sejak proses memilih jodoh, landasannya haruslah benar. Memilih pasangan hidup haruslah karena kebaikan agamanya, bukan sekedar karena kecantikan atau ketampanan wajah, kekayaan, maupun atribut-atribut fisikal lainnya. Proses bertemu dan menjalin hubungan hingga kesepakatan mau melangsungkan pernikahan harus tidak lepas dari prinsip ibadah. Prosesi pernikahannya pun, sejak akad nikah hingga walimah, tetap dalam rangka ibadah, dan jauh dari kemaksiatan. Sampai akhirnya, mereka menempuh bahtera kehidupan dalam suasana ta'abudiyah (peribadahan) yang jauh dari dominasi hawa nafsu.
Kedua, Nilai-Nilai Islam dapat Terinternalisasi Secara Kaffah
Internalisasi nilai-nilai Islam secara kaffah (menyeluruh) harus terjadi dalam diri setiap anggota keluarga, sehingga mereka senantiasa komit terhadap adab-adab Islami. Untuk itu, rumah tangga Islami dituntut untuk menyediakan sarana-sarana tarbiyah yang memadai, agar proses belajar, mencerap nilai dan ilmu, sampai akhirnya aplikasi dalam kehidupan sehari-hari bisa diwujudkan.
Ketiga, Hadirnya Qudwah yang yata
Diperlukan qudwah (keteladanan) yang nyata dari sekumpulan adab Islam yang hendak diterapkan. Orang tua memiliki posisi dan peran yang sangat penting dalam hal ini. Sebelum memerintahkan kebaikan atau melarang kemungkaran kepada anggota keluarga yang lain, pertama kali orang tua harus memberikan keteladanan.
Keempat, Masing-Masing Anggota Keluarga Diposisikan Sesuai Syariat
Dalam rumah tangga Islami, masing-masing anggota keluarga telah mendapatkan hak dan kewajibannya secara tepat dan manusiawi. Suami adalah pemimpin umum yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup rumah tangga. Istri adalah pemimpin rumah tangga untuk tugas-tugas internal.
Kelima, Terbiasakannya Ta’awun dalam Menegakkan Adab-Adab Islam Berkhidmat dalam kebaikan tidaklah mudah, amat banyak gangguan dan godaannya. Jika semua anggota keluarga telah bisa menempatkan diri secara tepat, mka ta'awun (tolong-menolong) dalam kebaikan ini akan lebih mungkin terjadi.
Keenam, Rumah Terkondisikan bagi Terlaksananya Peraturan Islam
Rumah tangga Islami adalah rumah yang secara fisik kondusif bagi terlaksananya peraturan Islam. Adab-adab Islam dalam kehidupan rumah tangga akan sulit diaplikasikan jika struktur bangunan rumah yang dimiliki tidak mendukung.
Ketujuh, Tercukupinya Kebutuhan Materi secara Wajar
Demi mewujudkan kebaikan dalam rumah tangga Islami itu, tak lepas dari faktor biaya. Memang materi bukanlah segala-galanya. Ia bukan pula merupakan tujuan dalam kehidupan rumah tangga tersebut. Akan tetapi, tanpa materi, banyak hal tak bisa didapatkan.
Kedelapan, Rumah Tanggga Dihindarkan dari Hal-Hal yang Tidak Sesuai dengan Semangat Islam
Menyingkirkan dan menjauhkan berbagai hal dalam rumahtangga yang tak sesuai dengan semangat keislaman harus dilakukan. Pada kasus-kasus tertentu yang dapat ditolerir, benda-bendam hiasan, dan peralatan harus dibuang atau dibatasi pemanfaatannya.
Kesembilan, Anggota Keluarga Terlibat Aktif Dalam Pembinaan Masyarakat
Rumah tangga Islami harus memberikan kontribusi yang cukup bagi kebaikan masyarakat sekitarnya, sebagai sebuah upaya pembinaan masyarakat (ishlah al-mujtama') menuju pemahaman yang benar tentang nilai-nilai Islam yang shahih, untuk kemudian berusaha bersama-sama membina diri dan keluarga sesuai dengan arahan Islam. Betapa pun taatnya keluarga kita terhadap norma-norma Ilahiyah, apabila lingkungan sekitar tidak mendukung, pelarutan-pelarutan nilai akan mudah terjadi, lebih-lebih pada anak-anak.
Kesepuluh, Rumah Tangga Dijaga dari Pengaruh Lingkungan yang Buruk
Dalam kondisi keluarga islami yang tak mampu memberikan nilai kebaikan bagi masyarakat sekitar yang terlampau parah kerusakannya, maka harus dilakukan upaya-upaya serius untuk, paling tidak, membentengi anggota keluarga. Harus ada mekanisme penyelamatan internal, agar tak larut dan hanyut dalam suasana jahili masyarakat di sekitarnya. Pada suatu kasus yang sudah amat parah, keluarga muslim bahkan harus meninggalkan lokasi jahiliyah itu dan mencari tempat lain yang lebih baik. Hal ini dilakukan demi kebaikan mereka.
Demikianlah beberapa karakter dasar sebuah rumah tangga yang Islami. Dengan adanya bangunan rumah tangga Islami, rumah tangga teladan yang menjadi panutan dan dambaan umat inilah, maka masyarakat Islami dapat diwujudkan.Maraji': Keakhwatan, Cahyadi Takariawan
http://www.pks- jaksel.or. id/Article1072. phtml


Berbagi Tausiyah untuk Aktifis Dakwah

Posted by pksbeji pada Juni 3, 2011
Oleh Hatta Syamsuddin, Lc
“Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain”. (Q.S. Al Insyirah: 7).
Waktu terus berjalan dan kerja-kerja dakwah pun terus menyeruak di hadapan seiring dengan bergantinya hari. Tidak layak kita terlalu berlama-lama berhenti atas nama evaluasi atau mengambil jeda sejenak untuk beristirahat. Amal dihadapan terlampau banyak untuk disebutkan, saatnya kembali menyiapkan barisan untuk menyambutnya, karena pada dasarnya setiap satuan waktu bagi seorang kader adalah potensi amal yang akan meningkatkan derajatnya di hadapan Allah SWT.
Sebelum kita melanjutkan amal, mari sedikit kita merenungi beberapa hal agar kerja-kerja ke depan kita semakin baik dan cermat karena ditopang dengan pribadi-pribadi yang kuat secara pemahaman, kokoh dalam keyakinan akan kebenaran manhaj dakwah dan ikhwan. Ada beberapa hal yang harus disadari oleh seorang kader :
Pertama : Tidak lagi menuduh jama’ah dalam kondisi lemah dan syubhat dalam kebijakan-kebijakannya
Syekh Muhammad Ahmad Ar-Rasyid dalam kitabnya “ Al-Awa’iq” berpesan :“ Perilaku pertama menyangkut kita aktifis gerakan islam, intinya adalah : agar kita tidak berlebihan dalam menuduh diri kita dengan berbagai macam kelemahan. Kita harus yakin bahwa kita berada dalam kebaikan yang sangat banyak atas karunia dan anugerah Allah SWT. Memang, kebaikan tidak lah sempurna, dan kita tidak bisa menyamai kaum salaf, akan tetapi kita adalah orang-orang yg membawa pelita keimanan. Apabila kita bersalah, maka keimanan itu akan memperbaiki kesalahan kita .
Ini bukanlah ghurur (terpedaya), juga bukan memamerkan sedikit amal yg kita persembahkan untuk islam. Akan tetapi metode tarbiyah yang mesti wajib kita terapkan, agar kita tidak terperosok pada kesalahan sebagian ulama zaman pertengahan, ketika mereka terlalu banyak menyebut rasa takut dan terlalu banyak menyebutkan bisikan-bisikan hati dan hal-hal yang bisa membatalkan amal, sehingga manusia diliputi oleh keputus asaan yang berlebihan, karena mereka tidak membuka satupun pintu harapan yang akan mengimbangi rasa takut tersebut “
Hari ini selayaknya setiap aktifis dakwah menghentikan asumsi-asumsi negatif terhadap sebuah jamaah dakwah, tidak lagi menuduh jamaah telah keluar dari asholah, atau kebijakan-kebijakan qiyadah yang dipenuhi syubhat. Sikap-sikap itu hanya akan menghambat kerja-kerja dalam dakwah. Kita sudah mempercayakan orang-orang terbaik untuk memutuskan kebijakan dalam dakwah ini. Mereka pun telah berijtihad secara jama’I dalam menghasilkan keputusan-keputusan da’awi dan siyasi. Karenanya tidak layak setiap kader masih harus berfikir secara infirodi dalam menyambut setiap kebijakan dakwah dan jamaah. Karakteristik keputusan dalam wilayah ijtihad memang selalu menghasilkan polemik, tapi kita tidak sedang dalam posisi yang layak berpolemik dalam masalah ini. Hendaknya kita memahami sebuah kalimat hikmah :
” ليس العاقل هو الذي يعرف الخير والشر , ولكن هو الذي يعرف الخير بين الشرين ”
“ Seorang yang pandai (berakal) bukanlah mereka yang mengetahui antara baik dan buruk, tapi yang mengetahui yang paling baik di antara dua keburukan “
Kedua : Memahami hakikat istiqomah dalam amal serta menjauhi berdiam diri (menganggur) dalam amal
Setiap aktifis dakwah hendaknya memahami bahwa salah satu ajaran Islam adalah istiqomah. Tidak ada jeda dalam melakukan amal kebaikan, karena waktu terus berjalan. Karenanya cukup jelas pesan dalam surat Al-Insyiroh : Faidza faroghta fanshob !. Jika kita lihat lebih dalam lagi, betapa syariat Islam menginginkan kondisi istiqomah dalam setiap amalan, nyaris tidak ada celah untuk berhenti dalam beramal –kecuali oleh hal-hal yg ditentukan syar’i. Kita bisa membaca karakteristik istiqomah melalui dalil tentang amal-amalan berikut ini, misalnya :
Anjuran untuk berjihad dalam berbagai kondisi. (QS At-Taubah : 41)
Anjuran untuk berinfak dan sedekah dalam berbagai kondisi. (QS Ali Imron : 134 )
Anjuran untuk berinfak di setiap waktu. (QS Al Baqoroh : 274)
Anjuran untuk berdzikir setiap saat sepanjang hari. (QS Thahaa 131 )
Anjuran untuk berdzikr dalam berbagai keadaan. (QS Ali Imron 191 )
Anjuran untuk tak kenal lelah dalam berdakwah. (QS Nuh 5 )
Begitupula kita dapati makna istiqomah dan berkelanjutan dalam kisah perang ahzab, betapa kemenangan yang diraih oleh kaum muslimin tidak serta merta mengantarkan mereka pada kenyamanan dan jeda istirahat yang panjang. Tetapi yang ada bahkan perintah untuk segera melanjutkan jihad menuju perkampungan bani quraidhah.
Dengan demikian, dakwah sebagai bagian tak terpisahkan dalam amal islami juga membutuhkan keistiqomahan dan berkelanjutan. Sebelum serta sesudah pemilu, bahkan ada atau tanpa pemilu sekalipun. Terlalu lama mengambil jeda atau berdiam diri dalam dakwah, hanya akan menyisakan potensi saling menyerang dan mengganggu sesama kader dakwah. Kita selami kata-kata hikmah di bawah ini :
العَسْكَرُ الذِي تَسُودُهُ البِطَالَةُ يُجِيدُ المُشَاغَبَاتِ
“ Pasukan yang tidak punya tugas, sangat potensial membuat kegaduhan”
Ketiga : Memahamai hakikat pembebanan individu untuk memunculkan semangat berlomba dalam kebaikan
Setiap aktifis dakwah hendaknya memahami bahwa setiap amal yang ia kerjakan tidak lain dan tidak bukan akan kembali pada dirinya sendiri. Bahwasanya setiap amal yang dikerjakan dengan adalah peluang untuk mendekatkan diri disisi Allah SWT. Bisa saja sebuah acara sukses dengan baik dan lancar, tapi penilaian amal disisi Allah SWT tidak bisa digeneralisir begitu saja, setiap orang akan mendapatkan pahala sesuai dengan kontribusinya. Karenanya, hendaknya setiap kader memahami bahwa ia harus terus beramal, karena pembebanan ini sifatnya individual, nilainya di akhirat adalah nilai dirinya sendiri, meskipun beramal di dunia secara jama’i. Kita renungkan beberapa dalil berikut ini :
فَقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا تُكَلَّفُ إِلَّا نَفْسَكَ
“ Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri “ (QS An-Nisa 84)
وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
“ Barang siapa yang lambat dalam amalnya, maka tidak akan membuatnya cepat nasab (afiliasinya) “ (HR Muslim)
Setelah setiap kader memahami tentang sifat pembebanan dan penilaian yang bersifat individu, maka diharapkan akan memunculkan semangat berlomba dalam kebaikan, sehingga akan menghasilkan amal-amal yang terbaik. Ruuh at-tanafus atau spirit untuk berlomba dalam kebaikan telah banyak diisyaratkan dalam Al-Quranul Karim, diantaranya : ( QS Al-Maidah 48, QS Al-Baqoroh 148, QS Al-Muthoffifin 26, QS Ali Imron 133)
Keempat : Cermat dan senantiasa berbeda dalam menjalankan tugas
Ada banyak kesalahan yang terjadi karena seseorang meremehkan sebuah amal, menggampangkan sebuah taklimat, menyederhanakan sebuah mas’uliyah, dan akhirnya berakhir dengan kegagalan atau cacat dalam melaksakan kerja-kerja dakwah. Setelah kader mempunyai semangat untuk berlomba dalam kebaikan, semestinya hal itu tidak perlu terjadi lagi. Yang ada setelah ini adalah lebih cermat (diqqoh) dalam menjalankan setiap tugas, tabayun jika menemukan kejanggalan, dan berusaha untuk berbeda dan berprestasi dalam mengerjakan tugas-tugas dakwah. Sesungguhnya jiwa yang besar senantiasa akan enggan untuk mengerjakan sesuatu dengan kualitas yang standar dan biasa-biasa saja. Kita renungkan hadits berikut ini :
قَالَ رَسُولُ اللهِ: (إِنَّ اللهَ تَعَالَى يُحِبُّ مَعَالِيَ الأُمُورِ، وَأَشْرَافَهَا، وَيَكْرهُ سَفْسَافَهَا)
Rasulullah SAW bersabda : “ Sesungguhnya Allah SWT mencintai urusan-urusan yang berkualitas lagi mulia, serta membenci yang rendah (remeh-temeh) “ ( HR Baihaqi dan Thobroni, dishahihkan oleh Albani)
Dalam siroh sahabat kita juga bisa mengambil contoh dari sahabat sekelas Abi Bakar as-Shiddiq, beliau senantiasa menghadirkan amal-amal terbaik, prestasi yang berbeda dengan shahabat lainnya. Bahkan seorang umar bin Khotob beberapa kali berusaha untuk berlomba dengannya, namun akhirnya mengakui kekalahannya seraya berkata pd Abu Bakar : “ Aku tidak akan mampu mengunggulimu selamanya “
Kelima : Menjauhi ketaatan atas dasar kecenderungan nafsu semata
Setiap aktifis dakwah hendaknya kembali merenung, apakah ketaatannya selama ini benar-benar atas dasar ketsiqohan dan keyakinan akan kebenaran sebuah manhaj, ataukah hanya memilah-milah taklimat yang bersesuaian dengan kecenderungannya dan hawa nafsunya saja ? Sesungguhnya ketaatan berdasarkan hawa nafsu semata adalah rapuh dan berbahaya untuk kelangsungan dakwah di masa depan. Karena akan lebih banyak lagi taklimat dan qoror yang mungkin tidak bersesuaian dengan keinginan dan hawa nafsu kita. Yang seharusnya terjadi adalah setiap kader mampu menundukkan hawa nafsunya agar senantiasa bersesuaian dengan dakwah. Hendaklah kita mengingat sabda Rasulullah SAW :
لا يؤمن احدكم حتى يكون هواه تبعا لما جئت به
Rasulullah SAW bersabda : “ Tidak sempurna keimanan salah seorang dari kalian, hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (risalah islam) “ (Musnad Firdaus, An-Nawawi memasukannya dalam Arba’in)
Abdul Wahhab Azaam berkata : “ Mereka akan segera taat pada hal-hal yang mereka sukai, namun mereka akan bermalas-malasan pada hal-hal yg mereka benci. Apabila dihadapkan pada ujian untuk melakukan suatu hal yang tidak mereka sukai sekalipun di dalamnya ada kemaslahatan jama’ah, maka mereka akan berpaling sambil memberi alasan, atau mereka akan mentaati dengan terpaksa, dan melaksanakannya dengan hati kesal “
Syeikh Muhamaad Ahmad Ar-Rasyid mengingatkan kita : “ Sesungguhnya keta’atan yang bermuatan hawa nafsu merupakan peninggalan tabi’at bani israil, yang harus dijauhi oleh seorang mukmin. Bani Israil pernah meminta kewajiban perang di jalan Allah , tetapi kemudian berpaling ketika perang sudah diwajibkan “. Lihat QS An-Nisa ayat 76.

Nikmati Jalan Dakwah....

Written By FRAKSI PKS WONOGIRI on Selasa, 22 Mei 2012 | 15.59



Oleh : Cahyadi Takariawan*

Terlalu sering saya sampaikan, agar kita tidak gagal dalam menikmati jalan dakwah. Dalam berbagai forum dan tulisan, saya selalu mengajak dan mengingatkan, agar kita selalu menjadikan jalan dakwah ini sebagai sesuatu yang kita nikmati. Segala renik yang ada di sepanjang jalannya: suka dan duka, tawa ria dan air mata, kemenangan dan kepedihan, tantangan dan kekuatan, sudahlah, semua itu adalah bagian yang harus bisa kita reguk kenikmatannya.

Di antara doa yang sering saya munajatkan adalah, “Ya Allah, wafatkan aku dalam kondisi mencintai jalan dakwah, dan jangan wafatkan aku dalam kondisi membenci jalan ini.” Tentu saja bersama doa-doa permohonan lainnya. Saya tidak ingin menjadi seseorang yang mengurai kembali ikatan yang telah direkatkan, mengungkit segala yang telah diberikan, dengan perasaan menyesal dan meratapi segala yang pernah terjadi di jalan ini.

Saya merasa bukan siapa-siapa, dan hanya seseorang yang mendapatkan banyak kemuliaan di jalan ini. Mendapatkan banyak saudara, mendapatkan banyak ilmu, memiliki banyak pengalaman, mengkristalkan banyak hikmah, menguatkan berbagai potensi diri, menajamkan mata hati dan mata jiwa. Luar biasa, sebuah jalan yang membawa berkah melimpah. Maka, merugilah mereka yang telah berada di jalan ini tetapi tidak mampu menikmati.


Maka mari kita nikmati jalan dakwah ini, “sebagai apapun” atau “tidak sebagai apapun” kita. Posisi-posisi dalam dakwah ini datang dan pergi. Bisa datang, bisa pergi, bisa kembali lagi, bisa pula tidak pernah kembali. Bisa “iya” bisa “tidak”. Iya menjadi pengurus, pejabat, pemimpin dan semacam itu; atau tidak menjadi pengurus, tidak menjadi pejabat, tidak menjadi pemimpin, tidak menjadi apapun yang bisa disebut.

Kamu siapa ?

“Saya pengurus partai dakwah”. Ini bisa disebut.

“Saya pejabat publik yang diusung oleh partai dakwah”. Ini juga bisa disebut.

“Saya pemimpin organisasi dakwah”. Ini sangat mudah disebut.

“Saya kepala daerah yang dicalonkan dari partai dakwah”. Ini cepat disebut.

Tapi, kamu siapa ?

“Saya orang yang selalu berdakwah. Pagi, siang, sore dan malam. Kelelahan adalah kenikmatan. Perjuangan adalah kemuliaan. Saya bahkan tidak tahu, apa nama diri saya. Karena saya lebih suka memberikan hal terbaik bagi dakwah, daripada mencari definisi saya sebagai apa di jalan ini”.


Ya. Nikmati saja jalan ini. Sebagai apapun, atau tidak sebagai apapun diri kita di jalan dakwah. Jangan gagal menikmati.


12 Oktober 2011

Selesai Rapat di Markaz Dakwah, Simatupang.

Kontribusikan Semua Potensi untuk Dakwah dan Jama’ah

Written By FRAKSI PKS WONOGIRI on Senin, 21 Mei 2012 | 23.50


Oleh: Cahyadi Takariawan

“Semua yang dimiliki kader harus bisa dikontribusikan untuk dakwah dan jama’ah. Jika kita punya rumah, harus ada kontribusi rumah untuk kegiatan dakwah dan jama’ah. Jika punya mobil, harus ada kontribusinya untuk dakwah dan jama’ah. Jika punya motor, harus ada kontribusinya untuk dakwah dan jama’ah. Dengan cara itulah kegiatan dakwah akan terus berjalan dengan lancar dan berkesinambungan”, demikian tausiyah dari ustadz Subaryanto, dalam acara Forum Silaturahmi Kader Dakwah Banguntapan, Bantul, DIY, Senin 13 Februari 2012.

Tausiyah ini sangat penting dan mendalam. Ada pertanyaan besar yang sering disampaikan orang, mengapa kita bisa memiliki banyak kegiatan, bersambung dari satu kegiatan ke kegiatan berikutnya, seakan tidak pernah berhenti dan istirahat. Pertanyaan mereka lebih ke arah, “Berapa banyak uang yang dikeluarkan untuk berbagai kegiatan tersebut?” Ternyata kita sendiri bahkan tidak pernah menghitungnya, karena kita melakukan saja, bekerja saja, berkegiatan saja, tanpa pernah menghitung dengan rinci semua pengeluaran kita.

Lihatlah tradisi dakwah dan jama’ah yang sudah kita bangun selama ini. Pertemuan dilakukan dari rumah ke rumah, sekaligus silaturahim antar kader dakwah. Saat menghadiri pertemuan, kita datang dengan mengendarai motor, mobil, atau menggunakan angkutan umum. Kita tidak pernah meminta ganti atas semua yang kita keluarkan secara pribadi, demi kelancaran kegiatan dakwah. Inilah salah satu cara untuk mengkontribusikan semua potensi yang kita miliki untuk dakwah dan jama’ah.

Coba jika dihitung dengan teliti, berapa banyak dana yang telah kita keluarkan untuk satu pertemuan. Tempat pertemuan gratis, karena tidak perlu menyewa. Rumah kader bisa kita gunakan sebagai tempat pertemuan, bahkan di garasi atau di halaman belakang rumah pun bisa. Tuan rumah dengan suka rela menyediakan minuman dan makanan, sebagaimana tradisi menjamu tamu pada umumnya. Masih ditambah berbagai sarana seperti tikar, karpet, atau kursi dan meja, serta fasilitas pertemuan ala kadarnya yang dimiliki tuan rumah. Tempat pertemuan gratis, jamuan gratis, fasilitas gratis.

Para peserta datang sendiri, tanpa meminta ganti ongkos transport. Jika harus mengganti ongkos transport, maka akan terkumpul jumlah yang cukup besar, karena kader datang dari berbagai tempat yang berjauhan. Namun kehadiran kader dalam sebuah pertemuan dakwah, lebih sering tidak dikaitkan dengan ongkos transport, karena sudah menjadi tradisi rutin yang berjalan selama ini. Semua datang dengan kecintaan, semangat, pengorbanan dan harapan. Dengan demikian untuk satu pertemuan, hampir tidak ada dana yang perlu dikeluarkan karena semua sudah ditanggung oleh masing-masing kader yang menjadi peserta.

Kecuali untuk acara tertentu yang berskala nasional, memang ada sedikit “hitungan” yang berbeda, karena ada renik-renik dan unsur publisitas tertentu yang ingin dimunculkan. Secara umum, sekian banyak agenda dakwah yang telah berjalan rutin selama ini, menjadi tanggungan setiap kader, tanpa ada “hitungan” ganti. Semua kader memahami, ganti akan diberikan secara langsung oleh Allah dalam jumlah yang berlipat, jauh lebih banyak dari apa yang mereka kontribusikan.

Logika seperti ini sepertinya sulit dipahami masyarakat pada umumnya, bahwa ada banyak agenda kegiatan organisasi bisa berjalan dengan baik dan rutin, tanpa perlu kucuran dana dari organisasi. Biasanya, pada organisasi secara umum, setiap agenda kegiatan, selalu menimbulkan anggaran. Semakin banyak kegiatan, semakin besar pula anggaran yang harus dikeluarkan. Kenyataannya, ketika tidak disediakan anggaran, kegiatan tidak bisa berjalan. Tidak begitu dengan organisasi dakwah. Logika yang berkembang adalah tadhiyah, sedangkan tadhiyah muncul dari kepahaman dan keikhlasan.

Tausiyah ustadz Subaryanto tersebut mengingatkan kita semua tentang urgensi kontribusi. Kader telah terbiasa dengan jalan kontribusi, bahkan bagi mereka, hal ini sudah tidak memerlukan pemikiran dan pertimbangan lagi. Kontribusi sudah menjadi akhlak, sudah menjadi aktivitas spontan, dan harian. Tidak perlu berpikir apakah akan meminjamkan ruangan untuk pertemuan, tidak perlu pertimbangan apakah akan meminjamkan mobil untuk perjalanan dakwah, tidak perlu merenung untuk memberikan fasilitas guna kelancaran kegiatan dakwah dan jama’ah. Semua sudah berjalan dengan sendirinya, tanpa dihitung-hitung dan diingat-ingat.

Setiap kader dakwah tidak pernah mengingat dan tidak memiliki catatan pribadi, berapa ratus ribu liter bensin telah dikeluarkan untuk kegiatan dakwah dan jamaah. Berapa juta kilometer jalan pernah ditempuh dalam menunaikan amanah dakwah. Berapa ribu kali meminjamkan motor atau mobil untuk kepentingan dakwah dan jama’ah. Berapa ribu kali menyediakan rumahnya untuk tempat kegiatan dakwah dan jama’ah. Berapa banyak uang telah dikeluarkan untuk kelancaran dakwah. Berapa banyak tenaga telah dikeluarkan guna menunaikan amanah dakwah.

Semua tidak dihitung, semua tidak diingat, semua tidak dicatat. Semua dikerjakan sepenuh kecintaan, sepenuh kesadaran, sepenuh kepahaman. Semua dikeluarkan dengan harapan akan mendapatkan balasan terbaik dari sisi Allah. Semua dikeluarkan tanpa perasaan menyesal. Hal ini bisa terjadi, karena kader memahami bahwa kontribusi adalah kunci keberlanjutan dakwah dan jama’ah. Kontribusi adalah jalan menuju kemenangan. Kontribusi adalah kekuatan.

Sungguh, kontribusi telah menjadi jalan hidup kami.

Menumbuhkan Kemampuan Menguasai Masyarakat

Written By FRAKSI PKS WONOGIRI on Senin, 02 Januari 2012 | 18.37



Taujih Ustadz Hilmi Aminuddin
(Ketua Majelis Syuro PKS)

Penguasaan masyarakat akan sangat tergantung pada tumbuhnya lima jenis kader dakwah sebagai berikut,


Pertama, al khotib al jamahiriy, tumbuhnya para khuthoba yang bersemangat, yaitu mereka yang mampu menyampaikan pesan-pesan Islam dengan jelas dan terang, penuh gairah dan dinamika. Para khotib bersemangat muda yang menyampaikan hikmah (pengetahuan) orang-orang tua yang penuh pengalaman (hikmatus syuyukh fi hamasatus syabab). Bukan semangat orang tua dengan pengetahuan pemuda yang cetek.

Para khutoba ini hendaknya mampu melakukan tahridh (pengerahan massa) dan menumbuhkan tahmis (semangat) berdasarkan iman dan pengetahuan bukan emosi dan kebencian.

Kedua, al faqih asy sya’biy, orang-orang faqih di tengah masyarakat, yaitu para ulama yang takut pada Allah dan hidup di tengah-tengah masyarakat, memberikan bimbingan dan fatwa-fatwa yang lurus dan benar tentang masalah yang dihadapi masyarakat. Menjadi pendidik dan tempat bertanya yang tidak menimbulkan keraguan dan perpecahan. Selalu menghidupkan toleransi antar mazhab (fiqh) yang menjadi titik temu yang mempersatukan ummat. Dari itu ia senantiasa dicintai, didukung dan dibela oleh masyarakatnya. Khotib jamahiriy menjadi pendorong masyarakat ke jalan Alloh sedang faqih sya’biy membimbing masyarakat dalam jalan Alloh. Dia bukan faqih jetset yang memberi fatwa berdasarkan order, tetapi benar-benar menyuarakan pimpinan Allah dan RasulNya.

Ketiga, al-Amal atau at ta’awuni al khoiriy, aktifitas kejama’ahan sosial. Tujuan utama dari aktifitas ini adalah memfungsikan masjid-masjid sesuai dengan bimbingan Rasululloh. Untuk itu harus dibuat kerjasama sosial dengan berbagai lapisan masyarakat untuk mendekatkan ummat pada masjid. Sasaran program ini adalah ta’zizud da’iyah, memperkuat para da’i sebagai pelopor di berbagai bidang. Para da’i kita hendaknya disokong sepenuhnya agar mampu menyantuni massa umat sehingga ia memiliki gengsi dan prestise yang tinggi yang membuat umat ikut pada arahannya. Biasanya masyarakat kita sangat patuh bila dakwah dimulai dengan santunan yang memperhatikan kebutuhan mereka.

Keempat, masyru’ al iqtishodis sya’biy, menumbuhkan ekonomi masyarakat kecil. Harakah dakwah harus turut meningkatkan taraf ekonomi umat Islam yang pada umumnya masih sangat lemah. Usaha-usaha ekonomi hendaknya usaha yang ringan, mudah dijangkau dan memasyarakat. Berbagai klub, perhimpunan atau organisasi ekonomi kecil perlu ditumbuhkan dan dibimbing oleh para da’i yang sekaligus menjadi pembimbing rohani mereka. Sasaran program ini adalah agar masyarakat pendukung da’wah dapat iktifa’ dzati (berdikari) di satu sisi dan di sisi lain bisa mengendalikan laju ekonomi secara keseluruhan.

Kelima, al i’lam as sya’biy, penerangan yang memasyarakat. Potensi i’lam hendaknya tumbuh dari orang-orang yang memahami aqidah, fikrah dan manhaj serta mundhobith (disiplin) kebijaksanaan jama’ah, agar pembentukan ro’yul ‘aam (opini umum) sesuai dengan rancangan da’wah. Sebab bidang ini merupakan titik rawan amni suatu gerakan da’wah. Pers yang ditumbuhkan dari dalam adalah pers yang murah dan mudah dibaca oleh masyarakat. Bukan penampilan elite yang membuat umat enggan membacanya atau menyedot potensi harakah dalam mengerjakannya. Yang penting bukan nama besar tetapi kemampuan menyebar dan meluas dengan cepat dalam berbagai bentuknya yang ringan; buletin, brosur, maklumat, majalah, koran dan aneka bentuk lainnya yang murah dan terjangkau, menyebar dari berbagai sumber dan dikerjakan cukup oleh setiap rumah tangga.

Selain itu perlu juga menyokong pers umat Islam yang telah ada agar memiliki ruh dan fikroh Islami. Para pakar jama’ah dakwah hendaknya menyumbangkan tulisan-tulisan bermutu pada pers yang dimiliki umat Islam. Bila perlu kita mampu menumbuhkan pers kaum muslimin menjadi pers harakah. Yaitu pers yang dikendalikan oleh personil harakah kita.

Dalam i’lam sya’bi perlu pula dimunculkan pendidikan Islam melalui radio-radio, televisi dan sebagainya. Tentu melalui thoriqoh yang mungkin bisa ditempuh dengan tidak meninggalkan unsur-unsur syar’i dalam penyajiannya. [ ]

*)http://al-intima.com/taujih-ust-hilmi-aminuddin/menumbuhkan-kemampuan-menguasai-masyarakat



*posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Indonesia
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template | PKS PIYUNGAN
Copyright © 2011. Fraksi PKS Wonogiri - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger